“Computer Associates” untuk Kelola Jaringan Komputer

Oleh : Dudi Perdana

PENGALAMAN satu distributor telepon seluler (ponsel) raksasa (menurut ukuran regional) yang kerepotan karena jaringan informasi online-nya terserang virus yang tidak segera dikenali dan kebal membuat para manajer teknologi informasi (TI) berpikir keras. Selama ini memang ada antivirus gratis yang bisa digunakan siapa saja, dan distributor itu menganggap antivirus itu cukup memadai.

Ternyata, si antivirus gratis itu kalah sakti dan keok begitu ada virus jahat dari Israel datang menyerang. Semua file hilang atau kemudian cuma berbentuk gunung meletus dan tidak bisa dibaca sama sekali. Bisa dihitung, jika distributor itu punya lebih dari 100 outlet dan tiap outlet punya omzet Rp 10 juta sehari, berapa besar kerugiannya. Pada masa virus merajalela, jaringannya tak bisa berbuat apa-apa dan itu berarti bisnis tidak jalan, satu miliar rupiah per hari lewat begitu saja.

Program antivirus memang tidak bisa dianggap enteng, apalagi makin lama serangan virus makin intens. Utamanya bagi perusahaan besar dengan jaringan komputer yang luas, kelancaran operasi tak bisa lagi mengandalkan program antivirus “kacangan”. Harus punya pendukung yang memadai, belum lagi jika jenis-jenis virus merupakan virus baru yang belum dikenali dan belum ada penangkalnya.

Dewasa ini sudah banyak perusahaan besar yang memiliki jaringan teknologi informasi yang luas mempercayakan pengelolaan dan pengawasan jaringannya kepada Computer Associates (CA). Misalnya, Sichuan Mobile, Cina; atau France Telecom, Perancis; dan Satelindo, Indonesia, yang mempunyai tujuh operating system (OS) dan piranti keras untuk jaringan TI-nya.

“Kalau satu-satu diawasi satu petugas TI dengan pendidikan khusus di bidangnya, berapa besar tenaga yang harus disiapkan. Belum lagi jika ada masalah di daerah, di point of present (POP) sehingga harus mengirim petugas,” ujar Dede Rusnandar, Senior Vice President IT PT Satelindo belum lama ini.

Satelindo pertama kali mengimplementasikan solusi CA pada tahun 1997 untuk kontrak selama 10 tahun. Solusi CA digunakan untuk mengelola tujuh platform di komputer di seluruh kantor operator seluler dari gerbang internasional dan operasi satelit Palapa C itu. CA juga digunakan untuk mengantisipasi isu Y2K (year 2000) dan meningkatkan efisiensi.

Dengan perangkat yang namanya Unicenter NSM (network system management), Satelindo dapat melakukan kontrol dan monitor terhadap seluruh server NT yang tersebar di seluruh kantor cabang dari satu tempat di kantor pusat Jakarta. Jika terdeteksi ada satu masalah di server NT tertentu, masalah tersebut langsung dianalisa dan dicarikan pemecahannya tanpa harus mengirim staf TI untuk mendatangi masing-masing kantor sehingga menghemat biaya dan tenaga.

Solusi Unicenter NSM dari CA juga memudahkan pengelolaan, pengiriman, pemasangan dan dapat meng-upgrade piranti lunak hanya dari satu tempat saja. Solusi ini juga mempercepat penemuan dan penyelesaian masalah pada perangkat TI yang dihadapi sebelum masalah tersebut mempengaruhi pelayanan kepada pelanggan lewat 200 outlet dan POP Satelindo.

Seperti dicontohkan soal virus tadi, kantor CA bertanggung jawab penuh menemukan antivirus dan menggunakannya untuk memusnahkan virus tersebut hanya dengan kontrol dari kantor pusat. Dengan CA, kata Dede Rusnandar, begitu komputer dibuka maka antivirusnya langsung bekerja dan jika ada indikasi virus masuk tetapi tidak bisa dibuka dan hanya bisa diketahui, langsung CA membuat antivirusnya.

Kata Dede, mereka memutuskan mengadopsi CA karena pengalaman tahun 1997 ketika website Satelindo diganti hackers dari Swedia dengan gambar gunung meletus. Tahun-tahun itu Indonesia memang jadi sasaran hackers dan tidak cuma Satelindo tetapi juga lembaga pemerintahan.

Waktu itu Satelindo sudah menggunakan produk lain, tetapi tetap saja kena serangan virus yang menyebabkan semua alur keluar masuk informasi lewat komputer ditutup. Lewat internet dicarikan solusinya dan berhasil didapat dari Singapura dengan membayar 1.000 dollar AS yang ketika diurut-urut, baik virus maupun penangkalnya semuanya datang dari Israel.

Dengan pengelolaan aset CA, kata Dede, staf di teknologi informasi bisa melakukan kontrol, mana komputer personal yang sudah di-upgrade, mana yang harus diganti, tanpa harus mendatangi satu-satu. Demikian pula untuk menanggulangi virus, sudah disiapkan aplikasi yang cocok untuk itu.

Selain itu, Satelindo juga tidak mau main-main dalam mengamankan kinerja dan efisiensi dalam menjalankan bisnisnya. Mereka menggunakan solusi yang tepat untuk mengelola “penggudangan” sumber-sumber (storage resources). Solusi ini juga digunakan untuk mengukur berapa besar sumbangan layanan TI bagi bisnis perusahaan itu, mereka menerapkan SLMO (service level management) dari Unicenter dan Brightstor enterprise backup.

Investasi di bidang telekomunikasi yang jelas berbasis kuat di teknologi informasi tidak bisa dilakukan setengah-setengah oleh operator siapa pun. Meskipun merupakan keharusan, operator harus memilih teknologi yang jauh lebih efisien dan bisa diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari, bukan dicari yang paling murah.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: