Ketika Batasan Dunia Kerja dan Pribadi Makin Kabur

Oleh : Darric Hor – detikinet

Pada suatu ketika, dunia kerja dan kehidupan pribadi adalah hal yang terpisahkan. Kerja adalah pergi pagi, pulang petang. Tentunya, ada saja para penggila kerja yang tak bisa pulang tepat waktu, atau mereka yang pulang kerja pun harus membawa ‘PR sekoper’.

Tapi, hanya segelintir saja yang seperti itu, dan lebih penting lagi, mereka melakukan pekerjaan tengah malamnya sendiri, tanpa gangguan email, instant messaging dan lain-lain. Memang biasanya, pekerjaan dibawa pulang ke rumah agar bisa diselesaikan tanpa gangguan.

Tapi dunia saat ini sungguh berbeda. Beberapa tahun ini kita sudah sering mendengar istilah ‘Konsumerisasi’ — yaitu ketika individu membawa perangkat terbaru dan tercanggih mereka, program yang handal serta situs-situs yang bermanfaat sebagai bagian dari dunia kerja.

Di balik fenomena ini adalah masalah harga. Ketika gadget jadi makin murah, pengguna akan membelinya — apalagi jika rekan sekerjanya menggunakan perangkat sejenis.

Kita juga melihat hal serupa seputar layanan cloud dan aplikasi mobile, yang sudah semakin murah dibandingkan software tradisional, begitu murahnya sampai banyak orang membeli hanya sekadar untuk mencobanya. Bahkan ada yang mengadopsi model ‘freemium’, yaitu layanan dasarnya digratiskan dengan layanan tambahan dikenai biaya.

Meskipun divisi TI mungkin kesal, dan tentu saja ada masalah keamanan akibat penggunaan di luar kendali ini, ada kesan bahwa hal ini sudah tidak bisa dihindari lagi. Faktanya, teknologi personal berkembang lebih cepat — jauh lebih cepat — daripada teknologi korporat.

Berusaha mengendalikannya tak akan menghentikan orang melakukan itu. Jadi, meskipun tak ada organisasi yang mengajukan kebijakan “semau-maunya”, kebanyakan sudah menerima fakta bahwa teknologi yang “sesuai kebijakan perusahaan” adalah hal yang kuno.

Bagi perusahaan, tantangan terbesarnya bukan soal perangkat, layanan maupun aplikasi (yang sebenarya hanya alat), tapi soal bagaimana data dimanfaatkan dan orang melakukan pekerjaannya. Ambil contoh Dropbox, sebuah piranti sinkronisasi dan berbagi file yang sebenarnya sederhana.

Namun belum lama ini, Dropbox tak sesederhana itu lagi, karena mereka melakukan perubahan pada Terms of Service untuk mengatakan bahwa mereka memiliki hak atas apapun yang disimpan di server mereka. Tim Dropbox segera melakukan klarifikasi atas perubahan ini. Meski demikian, ini adalah contoh betapa rumitnya hal-hal seputar layanan untuk konsumen.

Melihat sepintas pada berbagai terms and condition (T&C) di banyak layanan online menunjukkan kerumitan sejenis. Contohnya Yammer, sebuah platform kolaborasi, memang tidak mengklaim hak pada konten yang melalui layanan mereka, tapi tampaknya menawarkan hak itu pada perusahaan yang menyediakan jaringan di mana konten itu berjalan.

Ini harusnya jadi peringatan bagi siapapun yang mengerjakan situs klien. T&C situs sosial terkenal dengan ketidakjelasannya soal privasi, meskipun situs semacam itu bisa dilarang di lingkungan perusahaan, upaya pelarangan ini butuh konfigurasi yang berbeda untuk setiap pengguna perseorangan.

Mungkin, kebijakannya harus berbunyi, “Jika Anda berbagi data korporasi menggunakan aplikasi atau layanan yang tidak diperbolehkan, maka hentikanlah.” Tapi, kemungkinan besar orang akan tetap melakukan itu, terutama karena penggunaan peranti semacam itu memudahkan pekerjaan mereka dibandingkan menuruti ‘cara-cara usang’. Dengan kata lain, pernyataan kebijakan yang sederhana dan mencakup semua, bukanlah respons yang baik.

Bahkan jika layanan semacam itu diterima dan dikendalikan dari perspektif bisnis, di sisi lain hal ini memungkinkan kehidupan korporat merasuk ke kehidupan pribadi. Piranti online seperti Yammer atau Skype bisa dipasang di perangkat apapun — mereka hanya butuh login dan password.

Serupa dengan itu, layanan email dan berbagi lewat Exchange atau Sharepoint juga bisa diakses nyaris dari manapun, artinya, komputer di rumah bisa berubah jadi gerbang ke perusahaan.

Saat ini kita baru mulai berusaha memahami apa dampak hal-hal tersebut. Penelitian yang dilakukan cenderung terfokus pada tingginya harapan karyawan muda.

Pekerja yang konon tidak melihat garis batas yang tegas antara pekerjaan dan rumah. Jika hal ini berlaku untuk jangka panjang, artinya batasan antara teknologi yang dipakai untuk kerja dan di rumah akan makin kabur.

Jika kita melihat lagi faktanya, ini adalah soal orang dan data. Meskipun kebutuhan orang untuk kelenturan dan keragaman makin sulit dipenuhi, satu hal yang tak bisa diganggu gugat adalah soal data. Kita tak akan pernah mencapai suatu masa ketika data pasien atau pembicaraan pribadi di ruang rapat, misalnya, boleh dibocorkan.

Meski demikian, kita sudah jauh meninggalkan masa-masa sekadar melarang. Kita harus sampai di satu masa di mana kita sadar bahwa tidak semua data bernilai sama. Bagi perusahaan yang mencari jalan untuk melewati ladang ranjau dunia TI masa depan, memahami nilai dan risiko dari data adalah tempat yang bagus untuk memulainya.

*) Penulis, Darric Hor, Country Director Symantec Indonesia.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: